Inikah Potret Anak Kita di Masa Pandemic?

Preview(opens in a new tab)

Closeup on two young lovers holding hands at a table.

Pak Tarsim, salah satu mandor rekanan ayah mertua saya, curhat bebas ke mertua saya. Dia bilang, sejak sekolah online ini, setiap pagi istrinya harus marah-marah terlebih dahulu, mengejar-ngejar supaya anaknya mengerjakan tugas. Dia minta ke gurunya agar dibuatkan grup WA khusus orangtua untuk memantau tugas anaknya. Lalu Bu Andin bertanya, “Anaknya kelas berapa pak?” Dijawab Pak Tarsim, “Kelas Tiga Mbak…” Dibalas bu Andin, “Oalaaah… kelas 3 SD….” Kemudian dibalas Kembali, “Bukan mbak…. 3 STM…”

“Apa….?@#$#%^#$^?” Bu Andin mengernyitkan dahinya heran.

Pak Tarsim hanya bisa pasrah. “Mungkin ini cobaan hidup saya….” Tapi dia masih ada rasa syukurnya, “Alhamdulillah, anak saya masih di rumah.” Pas ditanya bu Andin, apa kegiatannya dijawab, “Main hp, main game online”. Anaknya ini laki-laki. Anaknya tidak paham bagaimana harus bersikap sesuai usianya. Dia masuk ke jelang dewasa. Tapi tanggung jawab, kesadaran internal masih rendah. Harusnya perlu dikekepin terus, diingatkan terus, diawasi terus.

Anaknya itu tidak mau kuliah. Maunya kerja saja. Pak Tarsim inginnya mengusahakan mencari biaya untuk kuliah. Tapi anaknya memutuskan tidak mau kuliah.

======

Ayah-bunda, demikianlah secuplik fakta di lapangan kehidupan nyata. Jika kita lupa membangun pada anak kita tentang skill tentang self-control, self-concept, kesadaran internal, daya juang, berani punya impian, hasrat berprestasi, fokus, kerja tuntas, maka Anda sebagai orangtua akan kewalahan di hari tua Anda.

Semua konsep di atas akan sangat mudah dialirkan dan dibangun pada anak kita, jika skill komunikasinya mumpuni. Ia akan sangat mudah memahami arahan, gampang menangkap pesan. Tanpa itu semua, ambyar deh.

Pertanyaan kritisnya adalah sudahkah Anda membangun anak Anda secara serius sejak ia usia dini? Biar low cost dan high impact dan Anda gak capek dan mewek? Jangan-jangan tanpa kita sadari, apa yang dialami Pak Tarsim, sebenarnya juga sedang kita alami dan terjadi pada anak kita, yang ada di rumah kita, yang selalu interaksi dengan kita selama masa pandemic ini.

Mari kita renungkan ke diri kita masing-masing. Tidak ada kata terlambat. Terlambat itu manakala bendera kuning telah berdiri di depan rumah kita, dan diri kita ada di keranda mayat, sedang digotong menuju liang lahat. Di situlah baru ada kata terlambat untuk membangun anak-anak kita.

Big hug,

Pak Ading

Childhood Optimizer Trainer  

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s